Kamis, 23 Agustus 2018

Cerita Malam Jumat #3

Kala itu mendung dan dingin ketika aku pulang sekolah. Seperti biasa aku  berjalan sendiri melintas menyusuri jalan setapak di 'hutan' itu.

Aku tak memikirkan apa-apa, hanya berjalan sambil kedua tanganku masuk kedalam saku. Kepalaku menunduk memperhatikan jalan setapak yang akan ku lewati. Lalu tiba-tiba....

Buuuuk... aku terhempas dan jatuh ke belakang

Badanku seperti menghantam sesuatu didepanku. Tapi aku tak luka sedikitpun karena benturan itu. Rasanya seperti bertumbukan dengan badan seseorang. Sambil terlentang di jalan setapak itu aku memperhatikan ke depan mencari alasan kenapa aku terhempas. Tidak ada apa-apa.

Ketika itu aku baru sadar, 'hutan' itu sedang hening. Jangankan kicau burung seperti  yang biasanya terdengar, suara gesekan dedaunan karena tertiup anginpun tak ada. Sepi sekali. Tapi perasaan aneh entah dari mana munculnya, aku merasa seperti sedang ada yang menatapku.

Aku berdiri bersamaan dengan bulu kudukku. Aku berlari sekencang-kencangnya kebelakang dengan jantung yang berdebar tak kalah kencang. Mulutku terkunci padahal ingin sekali aku berteriak minta tolong ketika itu.

Kamis, 16 Agustus 2018

Cerita Malam Jumat #2


Katak adalah hewan yang memendam kekecewaan mendalam. Mereka melahirkan anak, berharap yang lahir katak tapi yang muncul kecebong. Makanya katak tak pernah menjaga dan membesarkan kecebong. Kasian kecebong, tidak mengenal kasih sayang orang tua.

Aku masih ingat sempat memperhatikan kecebong-kecebong di selokan dekat SD ku itu. Selokan yang cukup dalam di bawah pohon beringin besar disebelah kuburan, di pinggir jalan raya.

Aku pulang sekolah ketika itu. Sendirian. Tanpa teman searah.

Kala itu tepat tengah hari, sejuk tidak panas. Aku pulang mendahului teman-temanku berkat kuis betul boleh pulang. Biasanya kalau ada kuis betul boleh pulang begitu aku tak langsung pulang. Kesukaanku menonton teman-temanku bengong-bengong tak bisa menjawab pertanyaan guru. Apa tak punyanya kalian hei teman-teman, bapak berkumis bapang yang memaksa-maksa kalian belajar tiap malam?

Aku waktu itu semangat pulang duluan karena aku diberikan ‘sesuatu’ oleh temanku. ‘Sesuatu’ yang tidak wajar dibawa-bawa anak kelas 3 SD masuk sekolah. Katanya benda itu dia dapat dirumahnya. Dia tak berani menyimpannya, takut ketauan emaknya. Maka diberikannyalah benda itu padaku. Aku simpan di kantong kecil tas ranselku.

Lepas dari memperhatikan kecebong di selokan itu, aku beranjak ke jalan raya. Aku pandang dari kejauhan nampak dua orang berlari ke arahku. Mereka berlari begitu kencang ditengah-tengah jalan raya yang lengang tanpa kendaraan. Dekat semakin dekat nampak bagiku semakin jelas kedua orang itu. Dua orang abang-abang, remaja sepertinya. Tapi yang satu sudah kumisan tipis. Bajunya abu-abu. Rambutnya belah tengah. Dan yang satu berbaju putih, lengan bajunya hitam.

Aku tak ada firasat apapun ketika mereka berlari menyongsong ke arahku. Aku pikir mereka akan lewat begitu saja. Persis ketika mereka tiba di sampingku, tiba-tiba saja mereka berhenti mendadak. Satu melompat ke depanku. Kira-kira satu meter. Aku kaget. Ia terlihat senang.

Aku kira mereka hanya mau mengajak bercanda. Mungkin abang-abang ini pemuda desa yang suka bercanda dengan anak SD. Tapi karena aku merasa tak kenal, aku mencoba untuk tidak menghiraukannya. Aku bergeser ke sampingnya untuk lewat. Dia yang didepanku menghalangi ku lewat. Aku kesamping lagi, dia menutupi jalanku lagi.

“permisi bang aku mau lewat,” akhirnya aku bicara berharap si abang berhenti main-main.

“hayoo…. hayo hayooo,” dia cuma berkata begitu sambil tangannya membentang menutupi semua celah disampingnya agar aku tak lewat.

“hoe permisi aku mau lewat,” aku mulai takut. Kakiku sudah gemetar, mataku sudah berlinang.

Abang itu tetap saja hanya bicara hayo hayo hayo sambil menghalang-halangi aku yang mencoba ke kanan-kirinya berusaha lewat.

Aku menangis saking takutnya. Aku lalu mencoba berbalik badan saja, aku mau kabur saja ke arah belakang. Tapi ternyata abang-abang yang satu lagi dari tadi dibelakangku. Ia sekarang yang menghalangi aku kabur. Aku semakin ketakutan.

Mereka ternyata mulai mendekat, aku entah sudah berapa kali berputar mencoba mencari celah dimana bisa lepas dari kedua orang ini. Tapi tak bisa bisa-bisa.

Kendaraanpun tak ada yang lewat satupun saat itu. Sepi sekali. Hanya ada kami bertiga.

Tiba-tiba aku mengambil benda pemberian temanku dari kantong kecil tas ranselku. Sebuah pisau kecil yang bergagang warna merah. Bentuknya aneh, tapi mengkilat.

“Pergi kalian, kalo nggak pergi aku tusuk!” sambil menangis dan gemetar aku mencoba mengancam mereka.

Berhasil. Tanpa berkata kata mereka langsung lari pergi menjauh.

Aku menyeka air mata. Sedetik saja kurang lebih. Abang-abang yang tadi sudah hilang. Lenyap entah kemana.

Aku tak mengerti mengapa mereka bisa hilang begitu saja. Ketika itu aku masih ketakutan, sambil menangis sesengukan aku pulang ke rumah.

Ketika melewati ‘hutan’ pinggir desa itu, aku ingat jika aku masih membawa pisau dari temanku itu. Akan jadi masalah besar kalau ibuku sampai melihat aku punya pisau. Maka aku putuskan untuk menyembunyikan pisau itu dibawah sebuah pohon di ‘hutan’ itu. Pohon itu aku tahu sekali. Tak akan ada orang yang lewat kesana. Aman pasti buatku menyimpan sesuatu disana.

Sore hari itu, setelah tidur siang aku mencoba mengambil pisau itu ke bawah pohon tempat aku menyimpannya. Aku penasaran ingin memperhatikannya. Namun ketika aku sampai pisau itu sudah hilang. Aku mencoba-coba mencarinya tapi tak ketemu. Aku pikir mungkin ada orang yang menemukannya, atau mungkin aku salah menyimpannya. Aku pulang kerumah dengan entahlah.

Malam harinya aku mendadak sakit. Badanku demam tinggi. Dalam mimpi aku melihat kembali dua abang-abang yang mencegatku tadi siang. Aku juga melihat pisau pemberian temanku itu di mimpi. Besar, membesar, besar sekali melayang-layang.



[bersambung]



Kamis, 09 Agustus 2018

Cerita Malam Jumat #1


Namaku Agus, cita-citaku nikah muda. Tapi aku sudah tua.

Malam ini aku ingin memulai bercerita sesuatu yang terjadi di masa kecilku. Aku belum pernah menceritakan ini kepada siapapun sebelumnya.

Ketika kecil, sekolah dasar, aku selalu pulang jalan kaki sendirian. Bukan karena aku tak punya teman, tapi karena diantara semua penghuni sekolah (murid dan guru) aku satu-satunya yang arah rumahnya ke utara. Sisanya ke selatan semua.

Dari sekolah ke rumah tidaklah dekat, bisa dibilang memutari setengah pinggiran desaku. Jalannya bukanlah jalanan umum, ada bagian dimana jalan setapak ditengah-tengah pohon-pohon besar nan rimbun. Mirip hutan, tapi bukan. Karena terletak di pinggiran desa, daerah ini sepi sekali. Sampai suatu saat aku tahu, tempat itu ternyata ‘ramai’.


[bersambung]

Selasa, 31 Juli 2018

Makan Nasimu Kayak Apa?

Kamu tipe yang mana?

Orang yang setiap makan selalu berusaha dihabiskan sampai bulir nasi terakhir, berusaha sebersih-bersihnya sampai tak bersisa.

Atau

Orang yang berhenti makan dengan masih berserakannya nasi di piring secara acak, yang kalau dikumpulin bisa dapat satu atau dua sendok lagi (atau bahkan lebih banyak).

Tidak perlu didebat, apalagi voting, orang yang sehat secara akal dan budi pasti makan dengan cara pertama.

Sebab orang tipe nomer dua terkesan kurang menghargai makanan sampai dibuang-buang. Ketika selesai makan dan di piring masing ada beberapa bulir nasi (entah cukup banyak atau sedikit), daripada dibuang dengan sedikit usaha kan masih bisa dimasukkan lagi ke dalam mulut. Atau sebelumnya, ambil saja nasi dengan ukuran yang betul-betul diketahui akan bisa dihabiskan bersih. Tidak susah sama sekali. Hanya perlu sedikit usaha dan kesadaran.

Beberapa kondisi dapat di-tolerir seperti makanan yang tidak enak, salah pilih makanan, sakit hingga tak enak makan, dsb tentu saja mungkin terjadi. Tapi tentu saja frekuensinya tidak berulang-ulang kan. 

Orang dengan cara makan nomer dua sebagian besar adalah produk dari kebiasaan makan sedari kecil. Dan sebagian orang 'terlalu nyaman' untuk sadar dan berubah.


Senin, 30 Juli 2018

Sembari Menahan Pipis

Aku tak pernah menahan pipis saat sedang santai nan leha-leha.

Sembari menahan pipis adalah momen dimana hal penting bin bermakna sedang terjadi berlangsung dalam hidupku.

Pernah aku menahan pipis dibagian awal pertemuan dengan Thanos, di film Infinity War-nya itu. Thanos dengan falsafah hidupnya untuk melenyapkan setengah penduduk jagat raya demi mencapai keseimbangan dunia itu terlalu sayang untuk dilewatkan bahkan walau hanya sedetikpun. Penghayatan Thanos yang begitu kudus untuk mewujudkan idealisme-nya itu bahkan ketika harus menggunakan jalan kekerasan, walau sebagian besar dunia menentang dan menghalangi, tapi tetap dijalani... adalah sebuah pesona tersendiri buatku. Iman Thanos begitu kuat memegang kepercayaannya. Poin demi poin dideskripsikan Thanos dengan begitu gamblang pada pemirsa, tanpa ia berpikir aku menyimak dengan kagum tapi menahan sakit menahan pipis.

Oh andaikan aku dikosan menonton streaming, sudah ku-pause ajaran-ajaranmu Nos, Thanos.

Lain lagi ketika aku sedang menyusuri jalan yang kondisinya mirip dengan ditengah hutan. Gelap tanpa lampu jalan, hanya lampu kendaraan yang ada. Pohonnya besar-besar dikanan-kiri. Jalannya sempit, untungnya aspalnya bagus. Tapi yang terbaik adalah itu jalanan asing. Aku ga tau kapan jalanan itu berujung ke 'peradaban'. Peradaban manusia atau mahluk alam lain? Nah loe... Belum kalo ada macan tiba-tiba muncul dari semak-semak, ini gimana jinakin macan? Kalo singa, gorila, yeti, T-rex yang muncul gimana? Waduh... Ngomong-ngomong jalanan ini ku lewati bukan karena sok berani coba-coba, tapi karena jalan utama dialihkan. Ada kebakaran di depan kata om polisi yang nutup jalan.

Nah dengan kondisi jalan yang 'seperti itu', bagusnya adalah aku berbekal kantong kemih yang sudah kembung mendesak ingin pipis sejak hampir 2 jam sebelumnya. Setiap detik dihitung menunggu beban ini kapan bisa dilepaskan. Setiap jalanan rusak yang dilewati rasanya seperti latihan kesabaran tingkat tinggi. 

Ketika akhirnya bisa pipis kemudian, perasaan lega dan nikmat muncul. Hingga pada titik tertentu perasaan seperti itu menyadarkan. Menyadarkan untuk bersyukur. Bersyukur masih bisa pipis, karena sebenarnya itu satu anugerah. Ada kok orang yang bahkan kencing pun susah setengah mati.

Karna ketika pipis bisa dikeluarkan dengan lancar begitu saja tanpa hambatan situasi dan kondisi, biasanya tak terjadi hal penting dalam hidup. Sembari menahan pipis, umumnya ada 'sesuatu hal' yang melintas. Tangkaplah.


Jumat, 18 Mei 2018

Selamat Datang Kembali

Sepakbola adalah cintaku dari masa kecil. Cinta yang tak pernah berubah walaupun berbagai hal terjadi dalam hidupku. 

Dari masa ketika bocah bercita-cita menjadi pemain sepakbola; Masa ketika sadar sepertinya hidup tidak mengijinkanku mewujudkan cita-cita tersebut; Hingga masa kini ketika hati telah legowo untuk menyimpan cita-cita itu sebagai kenangan manis dan tetap melanjutkan hidup dengan tersenyum bahagia. 

Kadar cinta akan sepakbola ku sepertinya tak pernah turun, tetap ranking teratas didalam hati. Hanya saja perjalanan hidup membuat intensitas mencintainya kadang naik-kadang turun.

Tapi aku senang malam kemarin, ketika aku 'sadar' ternyata aku sudah duduk di tribun stadion lagi, nonton sepakbola secara langsung lagi. Ada perasaan euforia dalam hati yang sulit untuk digambarkan.



Tim lokal kebanggaan, Bali United, malam itu menang 1-0 atas Arema Malang/Indonesia.

Terima kasih sambutannya, terima kasih kemenangannya.

Minggu, 28 Desember 2014

Intisari 2014

"Mengenang adalah upaya mengakrabi diri sendiri. Sejauh apa jalan yang sudah ditempuh. Sebanyak apa tempat yang sudah dikunjungi. Selebar apa senyum yang sempat terbit. Sebasah apa ciuman yang tak disesali. Sebaik apa Anda mengenal diri sendiri." - midjournal.com

Saatnya mengenang apa yang sudah kulalui.
Banyak peristiwa yang aku lalui di tahun 2014, tahun Kuda (sama seperti tahun kelahiranku). Sebagai penanda perpisahan dengan tahun 2014, di postingan ini akan ku rangkum momen-momen yang kulalui setahun ini.
Berikut intisari hidupku di Tahun 2014:

JANUARI
Pergantian tahun dari 2013 ke 2014 aku berada di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aku bersama 3 orang teman jalan-jalan disana untuk pergantian tahun dengan menginap di rumah seorang teman. Pengalaman pertama bepergian ke Lombok. Naik motor pula. Nice.
Di bulan ini juga aku merampungkan skripsiku dan mendaftarkannya untuk sidang skripsi.

FEBRUARI
Tepat di hari Valentine, 14 Februari, aku sidang skripsi. Lulus. Sah sarjana psikologi, secara de facto :)

MARET
Sabtu, 22 Maret 2014 aku wisuda. Officially, berhenti menyandang status mahasiswa, juga nama udah nambah panjang pakai gelar sarjana psikologi, jadi gini: AAG Ariputra Sancahya, S.Psi.

APRIL
Dapet kerjaan pertama di Talent Management Department, Siloam Hospitals Bali. I am white collar worker now. Pengalaman kerja kantoran pertama nih. Pertamax.

MEI
Jadian.

JUNI
Her birthday :)

JULI
Mulai belajar atur keuangan dengan baik. Create good habit related to money.

AGUSTUS
Pertama kali mendaki gunung. Gunung Batur, Kintamani. Melelahkan, tapi happy & berkesan luarbiasa :)

SEPTEMBER
Berpartisipasi di acara Colour Run pertama di Bali, Psycolourgy. Acara ini diadain sama almamaterku, Psikologi Unud. Keren mereka.

OKTOBER
Pindah kerja. Berhenti di Siloam Hospitals Bali. Masuk di FRii Bali Echo Beach Hotel. HR Officer.

NOVEMBER
Berpartisipasi donor darah di Kirana Hotel, Canggu. Ini donor darahku yang keenam sepanjang hidup. Dari sini, aku berencana rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan. Create healthy habit. :)

DESEMBER
Nambah umur. Tahun ini 24 tahun.


Perubahan di tahun 2014 ini benar-benar signifikan buatku, dari mahasiswa jadi pekerja, dari single jadi couple, dari ga beraturan jadi mulai teratur, etc. Semoga semua perubahan ini mengarahkanku menjadi orang yang lebih baik dan semakin dekat dengan cita-cita. Astungkara.

So, Welcome 2015



Sabtu, 09 Agustus 2014

She is Sweet #1 #Intro

Aku pernah melihatnya sekali waktu itu, cantik, anggun. Melihatnya wajahnya seperti menenggak obat penenang, rasanya damai sekali. Dia sungguh mempesona.

Tak ada kata, tak ada sapa. Aku melanjutkan hidupku, dia sepertinya juga begitu.

Berbulan-bulan berlalu, hampir setahun sejak saat itu, hingga suatu malam dalam heningnya kesepian bhatin aku kembali mengingat memori tentang dia.

Kemudian pikiranku tak lepas dari dia.

Berikutnya, aku tau namanya.
Selanjutnya, aku dapatkan nomor kontaknya.

Aku tahan niatku menghubunginya.
Tidak cukup lama aku kuat menahan.

Aku pun nekat, dengan sok kenal aku mencoba menghubunginya.

Aku menantikan jawaban.

Aku gusar.

Sapaan ku pun berbalas.

[to be continued]

Senin, 07 April 2014

Malabar



“Kereta Api Malabar jurusan Bandung-Malang terguling di kawasan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (4/4/2014) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Kereta tersebut menabrak reruntuhan longsoran tanah sebuah bukit yang menutup lintasan rel kereta.”(www.kompas.com)

Berita duka itu aku simak beberapa hari belakangan ini. Ada perasaan sentimental yang kuat menyimak berita tersebut, pasalnya aku dan Malabar memiliki cerita khusus kurang lebih setahun yang lalu, Februari 2013.

Waktu itu aku dan dua orang teman kuliahku, Bagus dan Oming, sedang jalan-jalan di Jawa. Kami pada saat  itu adalah mahasiswa semester akhir dikampus yang sedang penat menghadapi skripsi. Untuk menyegarkan pikiran, kamipun sepakat untuk jalan-jalan di Jawa. Sebuah petualangan bagi kami, karena kami awam dengan daerah Jawa (kecuali Bagus yang besar di Bandung, tapi untuk berjalan-jalan di daerah-daerah di Jawa ia juga tergolong awam). Tiga kota kami sepakati untuk sambangi yaitu Surabaya, Jogja, dan Bandung. Kami merencanakan petualangan tersebut se-apik mungkin, untuk bagian transportasi dari kota-ke kota kami menggunakan dua sarana. Pertama, berangkat dan kembali ke Bali kami menggunakan pesawat terbang. Lalu, untuk menghubungkan kami dari Surabaya ke Jogja kemudian ke Bandung kami menggunakan kereta api.

Perjalanan kereta api pertamaku adalah dari Surabaya ke Jogja dalam petualanganku bersama Bagus dan Oming. Aku lupa dengan kereta apa, yang kuingat ketika itu adalah aku menghabiskan sebagian besar perjalanan dengan mengobrol. Aku lupa momen bersama kereta itu karena tidak terlalu berkesan.

Bersama Kereta Malabar aku meneruskan perjalanan dari Jogja ke Bandung. Dan, yang ini akan selalu ada dalam kenanganku.

Drama dimulai ketika dalam perjalanan aku sakit. Waktu itu posisi kami di Jogja, hari terakhir. Badanku tiba-tiba panas tinggi pagi hari itu, mungkin aku yang cukup letih tidak kuat diterpa hujan gerimis dan angin Jogja. Perasaan bahagiaku akan pertualangan tersebut tidak cukup mampu menyelamatkanku dari penurunan kondisi. Aku sakit dan tepar, Bagus dan Oming kesusahan. Perjalanan kami belum selesai waktu itu, dan kami tidak mungkin balik ke Bali saat itu juga. Teman-temanku ini menjagaku dengan telatennya, membawakan barang-barangku, membelikanku makanan dan obat. Ketika malam itu kami di stasiun untuk melanjutkan ke Bandung, aku di tidurkan oleh mereka di bangku ruang tunggu, sementara mereka duduk di lantai di dekatku, karena bangku ruang tunggu yang lain penuh diisi calon penumpang.

Malam itu, tepat tengah malam, kereta yang akan kami tumpangi datang. Kereta itu bernama Malabar.

Aku masuk Malabar sambil terhuyung-huyung. Di dalam gerbong tidak terlalu penuh. Kami yang memegang tiga karcis tempat duduk mendapatkan keuntungan. Dari tiga karcis kami, dua kursi berada satu deret, dan satu kursi lagi di depannya. Kursi kami yang didepan ternyata disebelahnya kosong, sehingga kami bebas memanfaatkannya. Iya, tentu saja kursi tersebut diserahkan padaku oleh teman-temanku ini, alasannya agar aku bisa tidur terlentang di dua kursi tersebut, sementara Bagus dan Oming di belakang menjagaku.

Ketika Malabar mulai meninggalkan stasiun, aku tertidur.

Jogja ke Bandung adalah tentang 6 jam perjalanan ketika itu.

Aku yang ketika berangkat tertidur, beberapa jam setelahnya terbangun. Malabar masih melaju menyusuri rel-nya. Kepalaku pusing ketika terbangung, badan masih terasa panas, lidah dan tenggorokan masih tidak enak, tapi mungkin efek obat sudah bekerja, aku merasa sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Aku kemudian sudah bisa duduk, dan memperhatikan suasana.

Aku menengok sekitar, hanya seorang orang gadis manis di gerbong itu yang masih terjaga. Ia membaca buku sambil mendengarkan musik, sementara penumpang yang lain tertidur.

Sunyi, dengan latarbelakang hanya suara Malabar yang melaju.

Aku meneguk air mineral.

Kesunyian menyadarkanku, aku dan kereta adalah dua hal yang baru berkenalan. Lahir dan tumbuh besar di Bali yang tidak memiliki kereta, membuat kereta bagiku sangatlah istimewa. Aku kemudian juga menyadari ada perasaan senang dalam hatiku, akhirnya aku tahu juga yang namanya naik kereta. Sebelumnya, kereta adalah khayalan bagiku karena aku hanya bisa melihatnya di televisi ataupun gambar. Aku kemudian membandingkan macam-macam sarana transportasi yang pernah aku naiki. Dan aku langsung menyimpulkan, kereta adalah favoritku. Motor, mobil, bis terlalu biasa bagiku. Kapal laut terlalu bergelombang. Pesawat terbang mengusik bathinku, karena ketika menaikinya aku merasa pesawat pasti miring, terangkat bagian depannya. Meskipun kadang terasa cukup miring, kadang hanya sangat sedikit sekali terasa kemiringannya. Ini sifatnya subjektif, menaiki sesuatu yang miring-miring begitu aku suka geli-geli sendiri.

Memandang keluar jendela kereta seperti menonton film, gambarnya terus berubah-ubah menyajikan pemandangan-pemandangan. Pemandangan indah maupun biasa saja, bagiku pemandangan yang dipandang dari dalam kereta adalah pemandangan yang sangat menarik, berkesan.

Sejenak aku tenggelam dalam pikiranku, lalu kemudian badanku mengingatkan kembali kalau aku sakit.

Aku menelengos membulatkan diri di kursi Malabar, aku intip dua temanku dibelakang. Mereka tertidur pulas. Mereka pasti sangat capek. Aku menebak-nebak, entah apa yang mereka rasakan saat ini. Perjalanan mereka yang seharusnya menyenangkan malah harus kerepotan mengurusiku. Aku tentu tak berencana untuk sakit, tapi seandainya aku lebih baik dalam menjaga diriku tentu kawan-kawanku ini tidak akan kebagian repot. Aku sungguh tidak enak hati dengan mereka.

Aku meneguk lagi air mineralku.

Disana didalam gerbong Malabar, aku menatap kedua wajah polos teman-temanku yang tertidur. Entah apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikan hati teman-temanku ini. Aku tersadar betapa beruntungnya aku mengenal dua orang ini.

Aku meneguk air mineralku untuk terakhir kali.

Aku tak lagi melihat kedua temanku yang tertidur, mataku menatap kosong ke kursi depan. Piikiranku menerawang entah kemana. Badanku mengingatkan lagi kondisinya belum baik. Kemudian aku pejamkan mata, membiarkan Malabar membawaku menuju Bandung.

Selasa, 12 November 2013

Dari The Outsider-nya Albert Camus



Sewaktu di toko buku, aku menemukan sebuah judul buku yang menarik. The Outsider. Dalam keseharian Outsider bukan kata yang kurang familiar buatku, semua ini bermuara dari grup band Superman Is Dead (SID) yang sangat terkenal disini. SID menamai fans mereka dengan nama ini, Outsider, secara umum (secara khusus mereka menamai fans perempuannya dengan sebutan Lady Rose). Semula ketika menemukan buku ini aku mengira ada kaitannya dengan band SID, tapi ternyata sama sekali tidak ada. Pengarangnya bernama Albert Camus. Aku beberapa kali sempat membaca nama ini dari twit beberapa akun twitter, yang aku golongkan mereka termasuk sophisticated,  yang aku ikuti. Albert Camus ini ternyata adalah seorang pemenang hadiah nobel di bidang sastra tahun 1957. Aku cukup penasaran dengan buku ini, terlebih dengan karya dari seorang pemenang nobel, kurang apalagi sih  indikator buku ini untuk sangat sayang untuk tidak dibaca? Aku pun membeli buku ini.

Dari judulnya, The Outsider (terjemahan disampulnya: Sang pemberontak, bahasa sederhanaku sendiri: seorang yang diluar kebiasaan umum), aku mulai mengira-ngira akan isinya. Apa yang menjadi pertentang dalam cerita buku ini, hal apa yang dilakukan si tokoh yang diluar kebiasaaan umum/tidak sejalan norma.

Tuan Meursault (tokoh utama dalam buku ini) tidak menangis ketika ibunya meninggal, ia cenderung menganggap itu hal yang wajar. Sehari setelah pemakaman ibunya, Tuan Meursault berkencan dengan teman wanitanya. Seolah-olah ia tidak dalam suasana duka karena baru saja kehilangan orang yang melahirkannya. Untuk Tuan Meursault, semua hal sangat masuk akal baginya. Namun ternyata tidak dengan pandangan orang lain kepadanya.

Suatu ketika Tuan Meursault menolong seorang yang baru dikenalnya. Menolong bukan untuk mengurangi beban orang tersebut, tapi menolong untuk membalaskan dendam. Raymond, nama orang itu. Raymond meminta Tuan Meursault menuliskan surat pancingan untuk ‘wanita piaraannya’ agak ia kembali dan meminta maaf. Tuan Meursault bukannya tidak mempertimbangkan, tapi dengan alasan Raymond telah berbuat baik kepadanya, memberinya makan malam, ia kerjakan saja permintaan Raymond. Surat jadi. Tak lama, rencana balas Raymond pun terlaksana. Tuan Meursault pada saat itu kebetulan juga ada disana menyaksikannya. Meskipun berurusan dengan polisi akhirnya, namun itu tidak panjang. Dan kemudian, Tuan Meursault dan Raymond menjadi sahabat baik.

Raymond pun suatu ketika mengajak Tuan Meursault menginap di chalet (terj. villa kecil) pinggir pantai milik temannya. Mereka berangkat naik bus bertiga. Raymond, Tuan Meursault, dan Marrie (kekasih tuan Meursault). Tapi ternyata, beberapa orang membuntuti mereka. Sesampai di chalet mereka segera akrab dengan sang pemilik, Masson dan istrinya. Ketika sehabis makan siang, Raymond, Tuan Meursault, dan Masson berjalan di pantai karena suruhan para wanita yang akan merapikan sisa-sisa makan siang. Datanglah tiga orang arab pada mereka. Orang-orang ini adalah yang membuntuti mereka di perjalanan. Kenapa orang-orang ini membuntuti mereka? Ini adalah imbas dari aksi balas dendam Raymond pada ‘wanita piaraannya’. Orang-orang Arab ini masih ada hubungan saudara dengan wanita tersebut.

Mereka berkelahi. Tiga lawan tiga. Tapi Tuan Meursault cs kalah melawan para Arab yang ternyata membawa pisau. Raymond terluka terkena pisau, tapi untungnya para Arab langsung pergi setelah itu.

Raymond dibawa berobat oleh Masson, segera setelah kembali ke chalet Raymond mengambil pistol dan pergi mencari para Arab tersebut. Dasar seorang temperamen, ia tak akan puas sebelum bisa balas dendam. Tuan Meursault berhasil mengejar Raymond, tepat ketika mereka kembali bertemu dengan para Arab. Tuan Meursault berhasil menyelamatkan para Arab yang sudah tidak berkutik melihat Raymond memegang pistol. Tuan Meursault berhasil membujuk Raymond untuk memberikan pistol itu padanya. Mereka pun pulang ke chalet.

Sesampai di chalet, Tuan Meursault berpikir untuk kembali menemui para Arab tadi untuk berbicara tentang masalah mereka. Sendirian ia kembali pada para Arab. Ternyata yang didapati juga hanya tinggal seorang Arab yang berbaring disana berjemur. Mereka berpandangan. Arab tersebut sepertinya tidak nyaman dengan kembalinya musuhnya. Ia menggertak. Tuan Meursault masih memegang pistol Raymond. Terpojok dan ia menembak. Arab itu mati dengan sekali tembakan. Lepas tembakan pertama, Tuan Meursault memikirkan sesuatu. Ia pun tidak sadar kemudian melepaskan tiga lagi tembakan ke badan yang telah tak bernyawa.

Tembakan-tembakannya sukses mengirim Tuan Mersault ke penjara. Kemudian drama pun dimulai di persidangannya. Ketika persidangan, Tuan Mersault adalah pusat atensi semua orang. Mereka  yang datang ada untuk menyaksikan persidangannya, bersaksi atas tindakkannya, membelanya, mendakwanya, menjaga persidangannya, memutuskan kasusnya, atau sekedar menunjukkan pada tuan Meursault bahwa ketika ia mengalami masalah mereka ada untuknya.

Sejenak Tuan Meursault bisa-bisanya merasa lega dengan semua perhatian yang ia dapatkan dengan cara tidak biasa tersebut. Tapi lama-lama energinya terkuras juga memikirkan bagaimana orang-orang di hidupnya memberikan pandangan/penilaian terhadap dirinya. Tuan Meursault seolah-olah menyaksikan kehidupannya dikuliti.

Ia yang tak seperti orang kebanyakan, ia yang tak menangis di pemakaman ibunya.
Ia yang tak seperti kebanyakan, ia yang berkencan pada saat seharusnya masih berduka.
Ia yang tak seperti kebanyakan, ia yang menolong orang berbuat hal yang tak baik.
Dan selanjutnya, dan selanjutnya...

Akhirnya, Tuan Meursault akan bertemu  guillotine. Dunia yang menghakiminya tidak lagi bersedia menerima orang yang berbeda sepertinya. Tuan Meursault akan dikirim ke kematian. Namun Tuan Mersault tidak menyesal itu, dalam hatinya ia tetap bahagia. Bukan karena bisa membunuh orang. Tapi karena ia menjadi dirinya, meyakini kebenaran yang dianutnya walau harus berhadapan dengan maut.

***

Menarik pelatuk adalah sebuah gerakan sederhana. Hanya menggerakkan sebuah jari telunjuk. Namun sebuah gerakan telunjuk bisa sangat berbahaya, tergantung apa yang kamu pegang, dan kemana arahnya. Jangan lupa emosimu. Tuan Mersault telah mencontohkan pada kita, bahkan dengan sebuah gerakan sederhana bisa membawa kita pada penghakiman orang-orang. Kita tidak pernah tahu apa yang orang lain pikirkan tentang kita, maka berhati-hatilah.

Dan inilah apa yang sang pengarang, Albert Camus, pesankan pada anda melalui ceritanya:
“Setiap manusia pada akhirnya harus bertanggung jawab akan segala keputusan dan pilihannya.”

Merci Monsieur Camus.