Jumat, 18 Mei 2018

Selamat Datang Kembali

Sepakbola adalah cintaku dari masa kecil. Cinta yang tak pernah berubah walaupun berbagai hal terjadi dalam hidupku. 

Dari masa ketika bocah bercita-cita menjadi pemain sepakbola; Masa ketika sadar sepertinya hidup tidak mengijinkanku mewujudkan cita-cita tersebut; Hingga masa kini ketika hati telah legowo untuk menyimpan cita-cita itu sebagai kenangan manis dan tetap melanjutkan hidup dengan tersenyum bahagia. 

Kadar cinta akan sepakbola ku sepertinya tak pernah turun, tetap ranking teratas didalam hati. Hanya saja perjalanan hidup membuat intensitas mencintainya kadang naik-kadang turun.

Tapi aku senang malam kemarin, ketika aku 'sadar' ternyata aku sudah duduk di tribun stadion lagi, nonton sepakbola secara langsung lagi. Ada perasaan euforia dalam hati yang sulit untuk digambarkan.



Tim lokal kebanggaan, Bali United, malam itu menang 1-0 atas Arema Malang/Indonesia.

Terima kasih sambutannya, terima kasih kemenangannya.

Minggu, 28 Desember 2014

Intisari 2014

"Mengenang adalah upaya mengakrabi diri sendiri. Sejauh apa jalan yang sudah ditempuh. Sebanyak apa tempat yang sudah dikunjungi. Selebar apa senyum yang sempat terbit. Sebasah apa ciuman yang tak disesali. Sebaik apa Anda mengenal diri sendiri." - midjournal.com

Saatnya mengenang apa yang sudah kulalui.
Banyak peristiwa yang aku lalui di tahun 2014, tahun Kuda (sama seperti tahun kelahiranku). Sebagai penanda perpisahan dengan tahun 2014, di postingan ini akan ku rangkum momen-momen yang kulalui setahun ini.
Berikut intisari hidupku di Tahun 2014:

JANUARI
Pergantian tahun dari 2013 ke 2014 aku berada di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aku bersama 3 orang teman jalan-jalan disana untuk pergantian tahun dengan menginap di rumah seorang teman. Pengalaman pertama bepergian ke Lombok. Naik motor pula. Nice.
Di bulan ini juga aku merampungkan skripsiku dan mendaftarkannya untuk sidang skripsi.

FEBRUARI
Tepat di hari Valentine, 14 Februari, aku sidang skripsi. Lulus. Sah sarjana psikologi, secara de facto :)

MARET
Sabtu, 22 Maret 2014 aku wisuda. Officially, berhenti menyandang status mahasiswa, juga nama udah nambah panjang pakai gelar sarjana psikologi, jadi gini: AAG Ariputra Sancahya, S.Psi.

APRIL
Dapet kerjaan pertama di Talent Management Department, Siloam Hospitals Bali. I am white collar worker now. Pengalaman kerja kantoran pertama nih. Pertamax.

MEI
Jadian.

JUNI
Her birthday :)

JULI
Mulai belajar atur keuangan dengan baik. Create good habit related to money.

AGUSTUS
Pertama kali mendaki gunung. Gunung Batur, Kintamani. Melelahkan, tapi happy & berkesan luarbiasa :)

SEPTEMBER
Berpartisipasi di acara Colour Run pertama di Bali, Psycolourgy. Acara ini diadain sama almamaterku, Psikologi Unud. Keren mereka.

OKTOBER
Pindah kerja. Berhenti di Siloam Hospitals Bali. Masuk di FRii Bali Echo Beach Hotel. HR Officer.

NOVEMBER
Berpartisipasi donor darah di Kirana Hotel, Canggu. Ini donor darahku yang keenam sepanjang hidup. Dari sini, aku berencana rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan. Create healthy habit. :)

DESEMBER
Nambah umur. Tahun ini 24 tahun.


Perubahan di tahun 2014 ini benar-benar signifikan buatku, dari mahasiswa jadi pekerja, dari single jadi couple, dari ga beraturan jadi mulai teratur, etc. Semoga semua perubahan ini mengarahkanku menjadi orang yang lebih baik dan semakin dekat dengan cita-cita. Astungkara.

So, Welcome 2015



Sabtu, 09 Agustus 2014

She is Sweet #1 #Intro

Aku pernah melihatnya sekali waktu itu, cantik, anggun. Melihatnya wajahnya seperti menenggak obat penenang, rasanya damai sekali. Dia sungguh mempesona.

Tak ada kata, tak ada sapa. Aku melanjutkan hidupku, dia sepertinya juga begitu.

Berbulan-bulan berlalu, hampir setahun sejak saat itu, hingga suatu malam dalam heningnya kesepian bhatin aku kembali mengingat memori tentang dia.

Kemudian pikiranku tak lepas dari dia.

Berikutnya, aku tau namanya.
Selanjutnya, aku dapatkan nomor kontaknya.

Aku tahan niatku menghubunginya.
Tidak cukup lama aku kuat menahan.

Aku pun nekat, dengan sok kenal aku mencoba menghubunginya.

Aku menantikan jawaban.

Aku gusar.

Sapaan ku pun berbalas.

[to be continued]

Senin, 07 April 2014

Malabar



“Kereta Api Malabar jurusan Bandung-Malang terguling di kawasan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (4/4/2014) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Kereta tersebut menabrak reruntuhan longsoran tanah sebuah bukit yang menutup lintasan rel kereta.”(www.kompas.com)

Berita duka itu aku simak beberapa hari belakangan ini. Ada perasaan sentimental yang kuat menyimak berita tersebut, pasalnya aku dan Malabar memiliki cerita khusus kurang lebih setahun yang lalu, Februari 2013.

Waktu itu aku dan dua orang teman kuliahku, Bagus dan Oming, sedang jalan-jalan di Jawa. Kami pada saat  itu adalah mahasiswa semester akhir dikampus yang sedang penat menghadapi skripsi. Untuk menyegarkan pikiran, kamipun sepakat untuk jalan-jalan di Jawa. Sebuah petualangan bagi kami, karena kami awam dengan daerah Jawa (kecuali Bagus yang besar di Bandung, tapi untuk berjalan-jalan di daerah-daerah di Jawa ia juga tergolong awam). Tiga kota kami sepakati untuk sambangi yaitu Surabaya, Jogja, dan Bandung. Kami merencanakan petualangan tersebut se-apik mungkin, untuk bagian transportasi dari kota-ke kota kami menggunakan dua sarana. Pertama, berangkat dan kembali ke Bali kami menggunakan pesawat terbang. Lalu, untuk menghubungkan kami dari Surabaya ke Jogja kemudian ke Bandung kami menggunakan kereta api.

Perjalanan kereta api pertamaku adalah dari Surabaya ke Jogja dalam petualanganku bersama Bagus dan Oming. Aku lupa dengan kereta apa, yang kuingat ketika itu adalah aku menghabiskan sebagian besar perjalanan dengan mengobrol. Aku lupa momen bersama kereta itu karena tidak terlalu berkesan.

Bersama Kereta Malabar aku meneruskan perjalanan dari Jogja ke Bandung. Dan, yang ini akan selalu ada dalam kenanganku.

Drama dimulai ketika dalam perjalanan aku sakit. Waktu itu posisi kami di Jogja, hari terakhir. Badanku tiba-tiba panas tinggi pagi hari itu, mungkin aku yang cukup letih tidak kuat diterpa hujan gerimis dan angin Jogja. Perasaan bahagiaku akan pertualangan tersebut tidak cukup mampu menyelamatkanku dari penurunan kondisi. Aku sakit dan tepar, Bagus dan Oming kesusahan. Perjalanan kami belum selesai waktu itu, dan kami tidak mungkin balik ke Bali saat itu juga. Teman-temanku ini menjagaku dengan telatennya, membawakan barang-barangku, membelikanku makanan dan obat. Ketika malam itu kami di stasiun untuk melanjutkan ke Bandung, aku di tidurkan oleh mereka di bangku ruang tunggu, sementara mereka duduk di lantai di dekatku, karena bangku ruang tunggu yang lain penuh diisi calon penumpang.

Malam itu, tepat tengah malam, kereta yang akan kami tumpangi datang. Kereta itu bernama Malabar.

Aku masuk Malabar sambil terhuyung-huyung. Di dalam gerbong tidak terlalu penuh. Kami yang memegang tiga karcis tempat duduk mendapatkan keuntungan. Dari tiga karcis kami, dua kursi berada satu deret, dan satu kursi lagi di depannya. Kursi kami yang didepan ternyata disebelahnya kosong, sehingga kami bebas memanfaatkannya. Iya, tentu saja kursi tersebut diserahkan padaku oleh teman-temanku ini, alasannya agar aku bisa tidur terlentang di dua kursi tersebut, sementara Bagus dan Oming di belakang menjagaku.

Ketika Malabar mulai meninggalkan stasiun, aku tertidur.

Jogja ke Bandung adalah tentang 6 jam perjalanan ketika itu.

Aku yang ketika berangkat tertidur, beberapa jam setelahnya terbangun. Malabar masih melaju menyusuri rel-nya. Kepalaku pusing ketika terbangung, badan masih terasa panas, lidah dan tenggorokan masih tidak enak, tapi mungkin efek obat sudah bekerja, aku merasa sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Aku kemudian sudah bisa duduk, dan memperhatikan suasana.

Aku menengok sekitar, hanya seorang orang gadis manis di gerbong itu yang masih terjaga. Ia membaca buku sambil mendengarkan musik, sementara penumpang yang lain tertidur.

Sunyi, dengan latarbelakang hanya suara Malabar yang melaju.

Aku meneguk air mineral.

Kesunyian menyadarkanku, aku dan kereta adalah dua hal yang baru berkenalan. Lahir dan tumbuh besar di Bali yang tidak memiliki kereta, membuat kereta bagiku sangatlah istimewa. Aku kemudian juga menyadari ada perasaan senang dalam hatiku, akhirnya aku tahu juga yang namanya naik kereta. Sebelumnya, kereta adalah khayalan bagiku karena aku hanya bisa melihatnya di televisi ataupun gambar. Aku kemudian membandingkan macam-macam sarana transportasi yang pernah aku naiki. Dan aku langsung menyimpulkan, kereta adalah favoritku. Motor, mobil, bis terlalu biasa bagiku. Kapal laut terlalu bergelombang. Pesawat terbang mengusik bathinku, karena ketika menaikinya aku merasa pesawat pasti miring, terangkat bagian depannya. Meskipun kadang terasa cukup miring, kadang hanya sangat sedikit sekali terasa kemiringannya. Ini sifatnya subjektif, menaiki sesuatu yang miring-miring begitu aku suka geli-geli sendiri.

Memandang keluar jendela kereta seperti menonton film, gambarnya terus berubah-ubah menyajikan pemandangan-pemandangan. Pemandangan indah maupun biasa saja, bagiku pemandangan yang dipandang dari dalam kereta adalah pemandangan yang sangat menarik, berkesan.

Sejenak aku tenggelam dalam pikiranku, lalu kemudian badanku mengingatkan kembali kalau aku sakit.

Aku menelengos membulatkan diri di kursi Malabar, aku intip dua temanku dibelakang. Mereka tertidur pulas. Mereka pasti sangat capek. Aku menebak-nebak, entah apa yang mereka rasakan saat ini. Perjalanan mereka yang seharusnya menyenangkan malah harus kerepotan mengurusiku. Aku tentu tak berencana untuk sakit, tapi seandainya aku lebih baik dalam menjaga diriku tentu kawan-kawanku ini tidak akan kebagian repot. Aku sungguh tidak enak hati dengan mereka.

Aku meneguk lagi air mineralku.

Disana didalam gerbong Malabar, aku menatap kedua wajah polos teman-temanku yang tertidur. Entah apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikan hati teman-temanku ini. Aku tersadar betapa beruntungnya aku mengenal dua orang ini.

Aku meneguk air mineralku untuk terakhir kali.

Aku tak lagi melihat kedua temanku yang tertidur, mataku menatap kosong ke kursi depan. Piikiranku menerawang entah kemana. Badanku mengingatkan lagi kondisinya belum baik. Kemudian aku pejamkan mata, membiarkan Malabar membawaku menuju Bandung.

Selasa, 12 November 2013

Dari The Outsider-nya Albert Camus



Sewaktu di toko buku, aku menemukan sebuah judul buku yang menarik. The Outsider. Dalam keseharian Outsider bukan kata yang kurang familiar buatku, semua ini bermuara dari grup band Superman Is Dead (SID) yang sangat terkenal disini. SID menamai fans mereka dengan nama ini, Outsider, secara umum (secara khusus mereka menamai fans perempuannya dengan sebutan Lady Rose). Semula ketika menemukan buku ini aku mengira ada kaitannya dengan band SID, tapi ternyata sama sekali tidak ada. Pengarangnya bernama Albert Camus. Aku beberapa kali sempat membaca nama ini dari twit beberapa akun twitter, yang aku golongkan mereka termasuk sophisticated,  yang aku ikuti. Albert Camus ini ternyata adalah seorang pemenang hadiah nobel di bidang sastra tahun 1957. Aku cukup penasaran dengan buku ini, terlebih dengan karya dari seorang pemenang nobel, kurang apalagi sih  indikator buku ini untuk sangat sayang untuk tidak dibaca? Aku pun membeli buku ini.

Dari judulnya, The Outsider (terjemahan disampulnya: Sang pemberontak, bahasa sederhanaku sendiri: seorang yang diluar kebiasaan umum), aku mulai mengira-ngira akan isinya. Apa yang menjadi pertentang dalam cerita buku ini, hal apa yang dilakukan si tokoh yang diluar kebiasaaan umum/tidak sejalan norma.

Tuan Meursault (tokoh utama dalam buku ini) tidak menangis ketika ibunya meninggal, ia cenderung menganggap itu hal yang wajar. Sehari setelah pemakaman ibunya, Tuan Meursault berkencan dengan teman wanitanya. Seolah-olah ia tidak dalam suasana duka karena baru saja kehilangan orang yang melahirkannya. Untuk Tuan Meursault, semua hal sangat masuk akal baginya. Namun ternyata tidak dengan pandangan orang lain kepadanya.

Suatu ketika Tuan Meursault menolong seorang yang baru dikenalnya. Menolong bukan untuk mengurangi beban orang tersebut, tapi menolong untuk membalaskan dendam. Raymond, nama orang itu. Raymond meminta Tuan Meursault menuliskan surat pancingan untuk ‘wanita piaraannya’ agak ia kembali dan meminta maaf. Tuan Meursault bukannya tidak mempertimbangkan, tapi dengan alasan Raymond telah berbuat baik kepadanya, memberinya makan malam, ia kerjakan saja permintaan Raymond. Surat jadi. Tak lama, rencana balas Raymond pun terlaksana. Tuan Meursault pada saat itu kebetulan juga ada disana menyaksikannya. Meskipun berurusan dengan polisi akhirnya, namun itu tidak panjang. Dan kemudian, Tuan Meursault dan Raymond menjadi sahabat baik.

Raymond pun suatu ketika mengajak Tuan Meursault menginap di chalet (terj. villa kecil) pinggir pantai milik temannya. Mereka berangkat naik bus bertiga. Raymond, Tuan Meursault, dan Marrie (kekasih tuan Meursault). Tapi ternyata, beberapa orang membuntuti mereka. Sesampai di chalet mereka segera akrab dengan sang pemilik, Masson dan istrinya. Ketika sehabis makan siang, Raymond, Tuan Meursault, dan Masson berjalan di pantai karena suruhan para wanita yang akan merapikan sisa-sisa makan siang. Datanglah tiga orang arab pada mereka. Orang-orang ini adalah yang membuntuti mereka di perjalanan. Kenapa orang-orang ini membuntuti mereka? Ini adalah imbas dari aksi balas dendam Raymond pada ‘wanita piaraannya’. Orang-orang Arab ini masih ada hubungan saudara dengan wanita tersebut.

Mereka berkelahi. Tiga lawan tiga. Tapi Tuan Meursault cs kalah melawan para Arab yang ternyata membawa pisau. Raymond terluka terkena pisau, tapi untungnya para Arab langsung pergi setelah itu.

Raymond dibawa berobat oleh Masson, segera setelah kembali ke chalet Raymond mengambil pistol dan pergi mencari para Arab tersebut. Dasar seorang temperamen, ia tak akan puas sebelum bisa balas dendam. Tuan Meursault berhasil mengejar Raymond, tepat ketika mereka kembali bertemu dengan para Arab. Tuan Meursault berhasil menyelamatkan para Arab yang sudah tidak berkutik melihat Raymond memegang pistol. Tuan Meursault berhasil membujuk Raymond untuk memberikan pistol itu padanya. Mereka pun pulang ke chalet.

Sesampai di chalet, Tuan Meursault berpikir untuk kembali menemui para Arab tadi untuk berbicara tentang masalah mereka. Sendirian ia kembali pada para Arab. Ternyata yang didapati juga hanya tinggal seorang Arab yang berbaring disana berjemur. Mereka berpandangan. Arab tersebut sepertinya tidak nyaman dengan kembalinya musuhnya. Ia menggertak. Tuan Meursault masih memegang pistol Raymond. Terpojok dan ia menembak. Arab itu mati dengan sekali tembakan. Lepas tembakan pertama, Tuan Meursault memikirkan sesuatu. Ia pun tidak sadar kemudian melepaskan tiga lagi tembakan ke badan yang telah tak bernyawa.

Tembakan-tembakannya sukses mengirim Tuan Mersault ke penjara. Kemudian drama pun dimulai di persidangannya. Ketika persidangan, Tuan Mersault adalah pusat atensi semua orang. Mereka  yang datang ada untuk menyaksikan persidangannya, bersaksi atas tindakkannya, membelanya, mendakwanya, menjaga persidangannya, memutuskan kasusnya, atau sekedar menunjukkan pada tuan Meursault bahwa ketika ia mengalami masalah mereka ada untuknya.

Sejenak Tuan Meursault bisa-bisanya merasa lega dengan semua perhatian yang ia dapatkan dengan cara tidak biasa tersebut. Tapi lama-lama energinya terkuras juga memikirkan bagaimana orang-orang di hidupnya memberikan pandangan/penilaian terhadap dirinya. Tuan Meursault seolah-olah menyaksikan kehidupannya dikuliti.

Ia yang tak seperti orang kebanyakan, ia yang tak menangis di pemakaman ibunya.
Ia yang tak seperti kebanyakan, ia yang berkencan pada saat seharusnya masih berduka.
Ia yang tak seperti kebanyakan, ia yang menolong orang berbuat hal yang tak baik.
Dan selanjutnya, dan selanjutnya...

Akhirnya, Tuan Meursault akan bertemu  guillotine. Dunia yang menghakiminya tidak lagi bersedia menerima orang yang berbeda sepertinya. Tuan Meursault akan dikirim ke kematian. Namun Tuan Mersault tidak menyesal itu, dalam hatinya ia tetap bahagia. Bukan karena bisa membunuh orang. Tapi karena ia menjadi dirinya, meyakini kebenaran yang dianutnya walau harus berhadapan dengan maut.

***

Menarik pelatuk adalah sebuah gerakan sederhana. Hanya menggerakkan sebuah jari telunjuk. Namun sebuah gerakan telunjuk bisa sangat berbahaya, tergantung apa yang kamu pegang, dan kemana arahnya. Jangan lupa emosimu. Tuan Mersault telah mencontohkan pada kita, bahkan dengan sebuah gerakan sederhana bisa membawa kita pada penghakiman orang-orang. Kita tidak pernah tahu apa yang orang lain pikirkan tentang kita, maka berhati-hatilah.

Dan inilah apa yang sang pengarang, Albert Camus, pesankan pada anda melalui ceritanya:
“Setiap manusia pada akhirnya harus bertanggung jawab akan segala keputusan dan pilihannya.”

Merci Monsieur Camus.

Minggu, 29 September 2013

Haruki Murakami



Aku mengenal nama Haruki Murakami dari twitter. Katanya, Murakami adalah seorang novelis asal Jepang yang menulis karya-karya yang bagus. Salah satu novelnya berjudul Norwegian Wood, sebuah judul yang sama dengan salah satu lagu grup band legendaris The Beatles. Sebelumnya, aku memang suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan Jepang, aku suka dengan The Beatles, dan aku memang mempunyai minat yang cukup tinggi pada membaca, maka terpenuhilah syarat-syarat Haruki Murakami menjadi menarik untuk pikiranku.

Terdapat jeda yang cukup lama antara pertama kali aku mengenal nama Haruki Murakami hingga aku betul-betul bisa membaca salah satu novelnya. Memang begitu ia menjadi topik menarik di pikiranku, aku sudah cukup sering mencari-cari informasi tentang dia di internet, ataupun mencoba mencari novel-novelnya ketika sedang berada di toko buku. Namun, aku baru menemukan novelnya baru-baru ini.

Novel Haruki Murakami pertama yang kubaca adalah Norwegian Wood. Novel ini aku selesaikan membaca dalam rentang 4 hari. Sebuah waktu yang bisa dikatakan cukup singkat bagiku. Meskipun novel ini relatif tebal, tapi novel ini sungguh menarik sehingga aku tidak tahan untuk membiarkan novel itu tak terseleseikan dibaca. Meskipun judul novel ini hingga sekarang masih membuatku penasaran karena menurutku antara judul dan cerita di dalamnya, asosiasi antara Norwegian Wood dan kisah yang terjadi kurang kuat atau bisa dibilang kurang signifikan. Namun, hanya itu menurutku kekurangan yang ada pada novel itu. Sisanya yang kudapatkan adalah sebuah cerita yang unik yang menggambarkan hubungan antar manusia, kemesuman yang tergambar dengan indah, pengetahuan-pengetahuan baru, nilai-nilai kehidupan, dan yang terbaik yang kudapatkan dari novel ini adalah novel ini membuatku mampu lebih baik dalam memahami diri sendiri. Secara keseluruhan, aku menyimpulkan bahwa novel ini adalah sebuah karya yang istimewa dan akan selalu aku simpan dan rawat dengan baik bersama koleksi-koleksi bukuku yang lain.

Setelah menamatkan cerita Norwegian Wood, maka aku sudah tidak sabar ingin membaca karya-karya Haruki Murakami yang lain. Ya, kini Haruki Murakami sudah resmi menjadi seorang idola bagiku. Berhubung karya Haruki Murakami cukup banyak karena ia telah mulai berkarya sejak tahun 80’an, maka aku merasa akan mulai memburu satu demi satu karyanya untuk dikoleksi. Dari internet aku mengetahui reputasi dari karya-karya Haruki Murakami, pun dengan karya-karya tersebut telah membuatnya menerima berbagai penghargaan, bahkan namanya beberapa kali kerap di nominasikan sebagai penerima hadiah nobel bidang sastra. Haruki Murakami adalah seorang penulis besar, dan aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa membaca karya-karya masterpiece beliau.


Jumat, 12 Juli 2013

Forrest Gump


Ada sebuah adegan di film tenar Forrest Gump yang sangat saya suka,
Ketika itu, Forrest Gump pertama kali belajar bermain pingpong dan langsung mahir luarbiasa. Mungkin ia memang memiliki bakat terpendam disana. Forrest Gump bertemu pingpong ibaratnya seperti bebek bertemu air. Bebek, bahkan yang baru lahir, pasti tau caranya berenang bahkan dengan mahir. Belum pernah kan melihat bebek tenggelam?
Adegan di film itu meyakinkan saya kalau setiap manusia bertemu dengan bakat alaminya, pasti akan dengan mudah menjadi mahir/ahli. Bukankah menjadi mahir (expert) merupakan kunci sukses di jaman sekarang?
Beruntung sekali kalian atau orang-orang yang sudah kenal dan mengasah bakat alaminya, tapi masih banyak juga pastinya orang yang bisa dibilang 'belum kenal dirinya sendiri.'
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana caranya kita tahu apa sebenarnya bakat alami yang kita miliki?
Apa ada yang tahu caranya? Mungkin bisa dibagi-bagi disini.
By the way, jangan coba tanya google ya, saran saya sih jangan pernah berhenti mencari. Don't stop, okay deal?

Rabu, 13 Maret 2013

Tentang Perjalanan di Jawa

Saya di bulan Februari kemarin sempat berjalan-jalan di di Pulau Jawa. Bersama dua orang sahabat, satu minggu penuh, dari tanggal 17 hingga 24, kami menapakkan kaki di tanah Jawa. Buat saya, perjalan kemarin adalah sekeping impian masa kecil saya yang sudah menjadi kenyataan.
Tidak lengkap rasanya buat saya jika momen berharga tersebut tidak saya taruh dalam bentuk tulisan pada blog ini. Ditengah usaha saya untuk mengejar tugas studi yang sempat terlupakan, saya akan coba menulis tentang apa yang saya dapatkan ketika jalan-jalan tersebut.
Secara garis besar, perjalanan saya dan teman waktu itu menyusur dari bagian timur ke barat Jawa, dengan tiga topik utama, tiga kota tempat persinggahan kami yaitu Surabaya, Jogjakarta, dan Bandung. Tapi setelah saya pikir-pikir kembali dari pulang jalan-jalan hingga kini, ada banyak momen yang menarik untuk dikenang dan diceritakan kembali. Maka dari itu saya akan coba menceritakan kembali dalam bahasa tulis saya. Semoga bisa.

bersama Oming, Bagus, dan kendaraan yang membawa kami jalan-jalan di Jawa. Eh...

yang bener, di suatu sudut kota Jogja




Senin, 28 Januari 2013

Sehari bersama Pak Habibie


Hari Sabtu tertanggal 26 Januari 2013 merupakan hari yang takkan terlupakan dalam hidup saya. Saya mengalami sebuah pengalaman luarbiasa di hari tersebut, saya bertemu dengan  Presiden ke-3 RI, BJ Habibie.

Semua berawal dari info yang dibagikan seorang teman di grup facebook, sebuah acara bernama Rossy Goes to Campus akan diselenggarakan dengan menghadirkan seorang pembicara yang sangat spesial yaitu Prof. Dr. Ing B.J. Habibie, seorang mantan Presiden Indonesia. Mendengar namanya saja saya sudah langsung tertarik, ditambah dengan acara ini yang tidak memungut biaya masuk alias gratis. Pun dengan ajakan beberapa teman untuk mengikuti acara ini bareng, maka segera setelah pendaftaran dibuka sayapun sudah punya tiket masuknya.

Ketika hari-H, saya sudah berada dilokasi acara kira-kira setengah jam sebelum acara dimulai. Walaupun dengan sepatu yang basah akibat kehujanan dijalan ketika menuju tempat acara berlangsung tapi itu bukan gangguan berarti bagi saya untuk melanjutkan acara. Kaki yang kedinginan dan ‘mengembang’ tidak ada apa-apanya dibandingkan sebuah momen berharga yang mungkin sekali seumur hidup.

Saya tak punya prasangka apa-apa ketika duduk menunggu acara dimulai, saya kira semuanya akan berjalan biasa. Ada pembawa acara, ada Pak Habibie, kami semua yang menonton mendengarkan dan terinspirasi, dan selesai. Saya kira begitu, awalnya. Tapi saya salah, saya dikejutkan dengan cara mbak Rossy (@RosiSilalahi) hadir ke panggung. Bergelantungan dengan flying fox dari lantai 3 gedung sampai ke panggung sambil menyapa penonton. Luarbiasa. Apalagi untuk ukuran seorang ibu yang sudah berkepala empat (walaupun nyatanya tampak sangat awet muda). Sangat out of the box.

Dan yang ditunggu-tunggu pun tiba, Pak Habibie datang dari belakang penonton. Dikawal oleh beberapa orang beliau berjalan membelah kerumunan penonton yang tentu saja langsung mengerumuni beliau entah minta salaman, foto, atau sekedar ingin melihat beliau dari dekat. Saya yang berada di tribun cuma bisa berdiri melihat beliau.

Sebelum mengetahui acara ini tak pernah terpikirkan saya akan bertemu seorang presiden, dan ketika beliau muncul sosoknya di depan saya pertama kali itu, sebuah perasaan yang luarbiasa saya rasakan.

Pak Habibie menceritakan banyak hal kala itu, dengan sebuah tema tentang “Cinta Tanpa Batas.”

Ketika Pak Habibie bicara tentang cinta, saya bisa sedikit menerka apa yang akan ada didalamnya. Tentu saja, sosok isterinya ibu (Alm.) Ainun. Dan benar saja, Pak Habibie menceritakan tentang bagaimana kisah cinta dengan pekerjaannya, dan dengan Ibu Ainun. Ternyata dibalik latarbelakangnya sebagai seorang teknokrat dan juga negarawan, Pak Habibie merupakan seorang yang sangat romantis. Kisah cintanya begitu menyentuh. Pantas saja ketika Pak Habibie kemudian diberi gelar Maha Guru Cinta oleh Pak Rektor.

Ibu Ainun merupakan cinta terbesar Pak Habibie. Ketika Ibu Ainun wafat, Pak Habibie menceritakan dirinya merasa sangat kehilangan. Di awal-awal kepergian Ibu, Pak Habibie sempat terjaga ditengah malam. Tanpa alas kaki dan hanya menggunakan baju tidur Pak Habibie berjalan-jalan berkeliling rumah sambil memanggil-manggil, “Ainun, Ainun,....” Pak Habibie mengigau dalam kerinduannya pada kekasihnya yang telah tiada.

Kehilangan isterinya, Pak Habibie mengalami gangguan psikologis. Banyak ahli dari Jerman maupun Indonesia yang mencoba mengembalikan kondisi Pak Habibie agar baik seperti semula. Tapi justru yang mengembalikan kondisi Pak Habibie adalah cintanya yang besar terhadap Ibu Ainun. Pak Habibie menuliskan kisah cintanya dengan Ibu untuk mengobati kesedihannya.

Ternyata apa yang Pak Habibie tuliskan bukan hanya sebuah cerita biasa, setelah jadi cerita itu merupakan sebuah cerita yang mampu menginspirasi dan mengajarkan tentang kekuatan cinta bagi semua orang. Akhirnya, cerita cinta beliaupun terbit dalam sebuah buku berjudul Habibie-Ainun. Buku itu bestseller di kemudian hari.

Tak cukup dengan buku, sebuah production house kemudian memfilmkan cerita cinta dari Pak Habibie. Film itu berjudul sama dengan bukunya.

Saya sempat sedikit kecewa pada saat acara. Beberapa orang yang beruntung mendapatkan buku Habibie-Ainun plus dengan tanda tangan langsung Pak Habibie. Saya sangat berharap, tapi sayang mungkin belum jodohnya. Relakan.

Sebuah pengalaman tak terlupakan seumur hidup lainnya pun menyapa saya kemudian, ketika presenter mengumumkan 100 orang yang mendapat kesempatan menonton film Habibie-Ainun satu bioskop dengan Pak Habibie, nama saya termasuk didalamnya. Terpampang dengan sangat lengkap dan jelas. Nama yang panjang, ditulis tanpa disingkat satu katapun plus huruf besar semua tentu tidak sulit ditemukan dan dikenali. Teman-teman saya yang saya ajak waktu itupun semua kebagian golden ticket tersebut.

Fast forward, saya pun sudah duduk satu bioskop dengan Pak Habibie menyaksikan film Habibie-Ainun. Saya mungkin tidak bisa menceritakan dengan jelas tentang film tersebut, tapi saya punya sebuah analogi. Jika kita sekarang menerjemahkan kisah cinta romantis Romeo & Juliet dalam cerita Indonesia, Habibie-Ainun merupakan padanan yang sangat tepat untuk itu.

Ada satu momen ditengah-tengah film ketika pikiran saya berhenti mencerna film dan berpikir tentang hari saya saat itu. Melihat kanan dan kiri saya ada teman-teman menemani, dan saya sedang satu bioskop dengan Presiden ke-3 RI. Saya merasa sangat bersyukur, mengalami pengalaman langka seperti itu walaupun tidak berkesempatan berinteraksi langsung, atau berfoto dengan Pak Habibie. Sebuah hari yang akan selalu ingat seumur hidup.

Saya mencoba merangkum apa yang saya alami hari itu, dan saya mendapatkan sebuah kata yang pas, Happy.

Rabu, 19 September 2012

Seandainya nanti

Seandainya nanti...

Sepuluh tahun lagi, aku duduk jongkok diatas sofa di depan perapian di akhir bulan Desember itu. Tangan kiriku mengekang kencang-kencang selimutku dari dalam, sementara tangan kananku membantuku memegangnya. Memegang cerutuku yang dibawa langsung dari Kuba oleh sahabatku, yang di berikannya sebagai hadiah ulang tahunku. 


Sesekali aku hisap dalam-dalam cerutu kelas terbaik itu untuk menambah kehangatan dalam cuaca musim dingin itu. Aku melirik ke arah termometer yang tergantung di salah satu dinding ruangan, suhu sudah minus beberapa derajat ternyata.  Dan aku pun mulai cemas.


Malam musim dingin itu sudah mulai memasuki pukul 10, sebenarnya aku sudah mengantuk tapi kegelisahanku membuatku terpaksa menunggu. Berkali-kali sudah aku mencoba menelponnya, tapi tidak aku tetap tidak bisa terhubung. Aku belum berani menyimpulkan apa yang terjadi, aku hanya bisa menunggu karena aku juga tak tahu harus mencarinya kemana.


Terbersit penyesalan di hatiku tentang apa yang telah aku lakukan. Aku mulai berpikir, tak terasakah dia dengan dingin yang menusuk hingga terasa ke tulang? tak tahukah dia tentang legenda Dracula yang terkenal itu? Aku berpikir, seharusnya aku tinggalkan saja dia di Brazil tak usah aku perkenalkan dia dengan kastilku di Rumania ini. Pasti aku tak perlu menahan kantuk dan bisa selalu melingkup nyaman dibawah selimut sesuka-suka hatiku. Dasar gadis ekuator, tak bisa lihat salju sedikit sampai lupa pulang dia. Awas saja nanti pulang, akan kudiamkan seribu bahasa dia.


Cerutuku habis, dan akupun mulai kebosanan. Ku ambil Old Man and The Sea dari Hemmingway, aku baca lagi buku itu dan entah untuk ke berapa kali sudah.

Aku mencoba bersabar sesabar-sabarnya, sampai pagi muncul ternyata dia tak pulang-pulang juga. Akupun kehabisan ide, dan kuputuskan saja kutelepon kantor polisi untuk melaporkan orang hilang.

Kurasakan pagi itu benar-benar epik, seorang pria yang tidak tidur semalaman menelpon polisi melaporkan telah kehilangan istri ketiga yang tidak pulang semalaman. Oh....




Seandainya nanti, sepuluh tahun lagi benar-benar terjadi seperti itu, aku cuma bisa berharap.
Berharap istri ketigaku benar-benar hilang, agar ada alasan untuk mencari istri keempat. :p